HUT KE-12 WAY KANAN: Paripurna Berlangsung Khidmat
BLAMBANGAN UMPU (Lampost): Hari ulang tahun ke-12 Kabupaten Way Kanan diperingati dalam sidang paripurna istimewa DPRD setempat dengan khidmat.
Sidang peringatan kelahiran kabupaten itu dihadari seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, serta para pejabat teras Pemkab setempat.
Paripurna istimewa itu dipimpin Ketua DPRD Way Kanan Marsidi Hasan, dihadiri Bupati Way Kanan Bustami Zainudin, mantan Ketua DPRD setempat Jhonis Idris. Seluruh peserta sidang mengenakan pakaian adat Way Kanan.
Pada kesempatan itu Bustami Zainudin mengatakan tidak terasa Way Kanan berusia 12 tahun. Sejak berdiri, 27 April 1999, kelahiran kabupaten tersebut berdasar UU No. 12 Tahun 1999, bersamaan dengan Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro.
Menurut Bustami, usia 12 tahun merupakan usia transisi menuju produktif, dewasa, dan matang. Untuk itu, perlu direnungkan apa yang telah diperbuat di Negeri Ramik Ragom, Way Kanan Bumi Petani ini. "Walau telah banyak kita perbuat, lebih banyak lagi yang belum kita lakukan," kata Bustami.
Perbedaan pendapat dan sudut pandang dalam menilai kemajuan Kabupaten Way Kanan, kata dia, sebaiknya dijadikan bahan evaluasi untuk kemajuan pembangunan ke depan.
Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada pendahulu yang berjasa melakukan dan mengisi pembangunan dengan tulus ikhlas. Sebab, lahirnya kabupaten itu bukan terbentuk begitu saja, ada perjuangan panjang mulai tahun 1957 hingga tahun 1999. Oleh seluruh pihak, DPR RI, Pemprov Lampung, Pemkab Lampung Utara, dan Universitas Lampung. "Tokoh adat, masyarakat, dan lembaga formal, baik yang ada di dalam atau di luar Kabupaten Way Kanan," kata Bustami.
Dalam momentum HUT ini, kata Bupati, perlu diperingati dan dilaksanakan. Tujuannya mengenang jasa para sesepuh yang telah gigih dan terus-menerus mencetuskan gagasan terbentuknya Kabupaten Way Kanan. "Saat ini Kabupaten Way Kanan memiliki 14 wilayah kecamatan dan 6 kelurahan," kata dia.
Puncak peringatan diisi dengan upacara khusus di halaman Pemkab setempat, dengan inspektur upacara Bupati Way Kanan Bustami Zainudin, Rabu (27-4) pagi. Dalam upacara itu, Bupati juga memberikan penghargaan kepada tokoh yang telah mendukung dan memperjuangkan lahirnya Kabupaten Way Kanan. (LEH/D-3).
Sumber: Lampung Post 28/04/11
Jumat, 29 April 2011
Senin, 04 April 2011
Mulang Tiuh
Resensi : ‘Mulang Tiuh’, Membangun Way Kanan
Judul buku : Mulang Tiuh (Pulang Kampung Nih...)
Penulis : Bustami Zainuddin Gelar Raja Sepulau Lampung
Penerbit : Institut Studi Arus Informasi (ISAI)
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal : 125 halaman
BELUM banyak kabupaten di Provinsi Lampung yang merumuskan konsep pembangunan daerahnya ke dalam sebuah buku. Salah satu yang melakukan program positif ini adalah Pemkab Way Kanan, yang baru-baru ini menerbitkan buku Mulang Tiuh pada 20 Maret lalu di Hotel Novotel, Bandar Lampung.
Buku Mulang Tiuh berangkat dari gagasan Bupati Way Kanan, Bustami Zainudin Gelar Raja Sepulau Lampung. Menurut Bustami, semenjak berdirinya Way Kanan, belum ada satu pun program solutif yang dapat mengatasi masalah Way Kanan. Kabupaten ini tidak memiliki acuan yang bisa dijadikan model. Di bawah kepemimpinannya, semangat mulang tiuh dijadikan dasar refleksi dalam membangun Way Kanan sebagai Bumi Petani.
Dalam sambutannya buku ini, Menteri Pertanian Suswono menerangkan ajakan mulang tiuh atau pulang kampung sebagai bagian integral dalam rangka mewujudkan Way Kanan Bumi Petani dengan memobilisasi sumber daya yang ada dari seluruh masyarakat Way Kanan, termasuk yang ada di perantauan.
Sementara Jenderal Purn. Ryamizard Ryacudu, salah seorang putra Way Kanan, mengungkapkan bahwa melalui semangat mulang tiuh ini akan mengeratkan kembali ikatan tali kerukunan kita sebagai bangsa.
Buku ini ingin mengubah paradigma masyarakat bahwa petani adalah pekerjaan yang kurang terpandang di tengah-tengah masyarakat. Padahal, pertanian dan perkebunan bila digarap dengan serius akan menciptakan penghasilan atau aset sehingga terwujudlah solusi alternatif bagi kesejahteraan masyarakat.
Dalam menginventarisasi masalah yang ada di Way Kanan, buku ini merumuskan roadmap dan action planning. Titik tekannya dalam pembenahan internal dan eksternal. Pembenahan internal yang dimaksud adalah reformasi birokrasi. Sistem baru yang ditawarkan bupati bertujuan membongkar situasi birokrasi yang cenderung masih berbelit-belit. Sementara itu dari sisi eksternal, mengajak seluruh masyarakat Way Kanan untuk membangun kampung halamannya dan menyinergikan semangat kebersamaan dengan spirit mulang tiuh.
Mulang tiuh tidak harus berkonotasi secara fisik yang berupa perpindahan badaniah dari tempat yang jauh ke kampung halaman, tetapi lebih jauh lagi, yaitu ke kesadaran paling awal, perjalanan kembali ke kampung jiwa dan ke akar budaya.
Bahwa mereka yang pernah lahir dan besar di Way Kanan, kemudian merantau dan kondisi sosial ekonominya telah mapan, hendaknya menyadari bahwa tiuh punya saham besar membentuk para perantau tersebut, bahwa tradisilah yang kemudian membentuk watak dan bakat mereka.
Intinya, aktivitas mulang tiuh akan menjadi produktif jika tiuh disambangi dalam satu kesadaran utuh: berbakti kepada tanah kelahiran.
Masyarakat Way Kanan di perantauan barangkali telah terseret jauh dalam derasnya laju pembangunan, pengaruh globalisasi, teknologi, dan sebagainya. Melalui spirit mulang tiuh ini kita diajak bercermin kembali, melihat siapa diri kita, dari mana berasal, dan apa yang sudah kita dedikasikan kepada kampung halaman.
Dengan mengenang kampung sebagai nucleus cosmic kesadaran, diharapkan para perantau bergerak menuju ke titik yang sama. Spirit inilah yang menggerakan perubahan di desa dan memberikan impuls perubahan.
Bumi Petani terdiri dari dua pengertian filosofis, Bumi sebagai potensi sumber daya alam yang luar biasa dan Petani sebagai sumber daya manusia. Selain itu, program ini merupakan terobosan pembangunan yang berbasis kearifan lokal, kreatif, inovatif, dan berkarakter.
Buku Mulang Tiuh ini menarik untuk dibaca siapa saja yang ingin menyimak kondisi kontekstual, juga visi misi Way Kanan lima tahun ke depan di bawah kepemimpinan Bustami Zainuddin. Selain menjadi acuan dasar dalam mengisi pembangunan di Way Kanan, buku ini juga memberikan inspirasi dan harapan secara khusus kepada masyarakat Way Kanan untuk membangun kampung halamannya. Sedikit kekurangan buku ini, tidak disertakannya sejarah terbentuknya Kabupaten Way Kanan.
Bupati Way Kanan melalui buku Mulang Tiuh ini mengimbau seluruh masyarakat Way Kanan, terutama yang ada di perantauan, untuk bersama-sama kembali dan berbakti kepada kampung halaman, sekaligus mendukung program pembangunan di Bumi Petani.
Edi Siswanto, pembaca buku
Sumber: Lampung Post 3 April 2011
Judul buku : Mulang Tiuh (Pulang Kampung Nih...)
Penulis : Bustami Zainuddin Gelar Raja Sepulau Lampung
Penerbit : Institut Studi Arus Informasi (ISAI)
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal : 125 halaman
BELUM banyak kabupaten di Provinsi Lampung yang merumuskan konsep pembangunan daerahnya ke dalam sebuah buku. Salah satu yang melakukan program positif ini adalah Pemkab Way Kanan, yang baru-baru ini menerbitkan buku Mulang Tiuh pada 20 Maret lalu di Hotel Novotel, Bandar Lampung.
Buku Mulang Tiuh berangkat dari gagasan Bupati Way Kanan, Bustami Zainudin Gelar Raja Sepulau Lampung. Menurut Bustami, semenjak berdirinya Way Kanan, belum ada satu pun program solutif yang dapat mengatasi masalah Way Kanan. Kabupaten ini tidak memiliki acuan yang bisa dijadikan model. Di bawah kepemimpinannya, semangat mulang tiuh dijadikan dasar refleksi dalam membangun Way Kanan sebagai Bumi Petani.
Dalam sambutannya buku ini, Menteri Pertanian Suswono menerangkan ajakan mulang tiuh atau pulang kampung sebagai bagian integral dalam rangka mewujudkan Way Kanan Bumi Petani dengan memobilisasi sumber daya yang ada dari seluruh masyarakat Way Kanan, termasuk yang ada di perantauan.
Sementara Jenderal Purn. Ryamizard Ryacudu, salah seorang putra Way Kanan, mengungkapkan bahwa melalui semangat mulang tiuh ini akan mengeratkan kembali ikatan tali kerukunan kita sebagai bangsa.
Buku ini ingin mengubah paradigma masyarakat bahwa petani adalah pekerjaan yang kurang terpandang di tengah-tengah masyarakat. Padahal, pertanian dan perkebunan bila digarap dengan serius akan menciptakan penghasilan atau aset sehingga terwujudlah solusi alternatif bagi kesejahteraan masyarakat.
Dalam menginventarisasi masalah yang ada di Way Kanan, buku ini merumuskan roadmap dan action planning. Titik tekannya dalam pembenahan internal dan eksternal. Pembenahan internal yang dimaksud adalah reformasi birokrasi. Sistem baru yang ditawarkan bupati bertujuan membongkar situasi birokrasi yang cenderung masih berbelit-belit. Sementara itu dari sisi eksternal, mengajak seluruh masyarakat Way Kanan untuk membangun kampung halamannya dan menyinergikan semangat kebersamaan dengan spirit mulang tiuh.
Mulang tiuh tidak harus berkonotasi secara fisik yang berupa perpindahan badaniah dari tempat yang jauh ke kampung halaman, tetapi lebih jauh lagi, yaitu ke kesadaran paling awal, perjalanan kembali ke kampung jiwa dan ke akar budaya.
Bahwa mereka yang pernah lahir dan besar di Way Kanan, kemudian merantau dan kondisi sosial ekonominya telah mapan, hendaknya menyadari bahwa tiuh punya saham besar membentuk para perantau tersebut, bahwa tradisilah yang kemudian membentuk watak dan bakat mereka.
Intinya, aktivitas mulang tiuh akan menjadi produktif jika tiuh disambangi dalam satu kesadaran utuh: berbakti kepada tanah kelahiran.
Masyarakat Way Kanan di perantauan barangkali telah terseret jauh dalam derasnya laju pembangunan, pengaruh globalisasi, teknologi, dan sebagainya. Melalui spirit mulang tiuh ini kita diajak bercermin kembali, melihat siapa diri kita, dari mana berasal, dan apa yang sudah kita dedikasikan kepada kampung halaman.
Dengan mengenang kampung sebagai nucleus cosmic kesadaran, diharapkan para perantau bergerak menuju ke titik yang sama. Spirit inilah yang menggerakan perubahan di desa dan memberikan impuls perubahan.
Bumi Petani terdiri dari dua pengertian filosofis, Bumi sebagai potensi sumber daya alam yang luar biasa dan Petani sebagai sumber daya manusia. Selain itu, program ini merupakan terobosan pembangunan yang berbasis kearifan lokal, kreatif, inovatif, dan berkarakter.
Buku Mulang Tiuh ini menarik untuk dibaca siapa saja yang ingin menyimak kondisi kontekstual, juga visi misi Way Kanan lima tahun ke depan di bawah kepemimpinan Bustami Zainuddin. Selain menjadi acuan dasar dalam mengisi pembangunan di Way Kanan, buku ini juga memberikan inspirasi dan harapan secara khusus kepada masyarakat Way Kanan untuk membangun kampung halamannya. Sedikit kekurangan buku ini, tidak disertakannya sejarah terbentuknya Kabupaten Way Kanan.
Bupati Way Kanan melalui buku Mulang Tiuh ini mengimbau seluruh masyarakat Way Kanan, terutama yang ada di perantauan, untuk bersama-sama kembali dan berbakti kepada kampung halaman, sekaligus mendukung program pembangunan di Bumi Petani.
Edi Siswanto, pembaca buku
Sumber: Lampung Post 3 April 2011
Selasa, 14 Desember 2010
Tiyuh Mayjen Ryacudu
Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved.
Minggu, 19 Februari 2006
Menengok Kampung Ryacudu
Ada tradisi yang dipertahankan di Mesirilir. Memasuki kampung kelahiran Mayor Jenderal Purnawirawan Mussanif Ryacudu ini, kita akan merasakan suasana kultural khas kebuwayan Bahuga.
BERJALANLAH ke Kecamatan Bahuga, Way Kanan. Jangan berhenti sebelum Anda sampai Mesirilir, ibu kota kecamatan ini. Di sini, kita akan melihat perkampungan tradisional buway Bahuga--satu di antara lima kebuwayan suku Lampung di Kabupaten Way Kanan.
Di sini juga kita akan melihat jejeran rumah panggung berbahan papan tebal. Di tiyuh (kampung) ini juga kita akan bersentuhan dengan tradisi kebuwayan Bahuga yang sampai sekarang masih bertahan.
Tiyuh Mesirilir berdiri di dekat Sungai Umpu atau Way Umpu. Rumah-rumah panggung berjajar mengikuti garis sungai dan sepanjang jalan yang membelah perkampungan.
Rumah-rumah panggung berumur puluhan tahun ini--ada yang ratusan--membersitkan suasana kultural tersendiri. Papan hitam kecokelatan menandakan ketuaan rumah panggung di Mesirilir. Ada juga rumah panggung yang dicat, tapi ini tidak menghilangkan suasana kultural khas buway Bahuga.
Warga Mesirilir hidup dalam ikatan adat yang diwariskan leluhur mereka, Bahuga. Tradisi kebuwayan Bahuga ini memiliki latar cerita yang tidak bisa dilepas dari muasal lima kebuwayan Way Kanan.
Berdasarkan penuturan berbagai sumber, kebuwayan Way Kanan berasal dari lima kakak beradik kandung: Semenguk, Baradatu, Barasakti, Bahuga, dan Pangeran Pemuka. Dari lima garis keturunan ini, Pangeran Pemuka terpecah menjadi empat marga: Pangeran Pemuka Udik, Pangeran Pemuka Tua, Pangeran Pemuka Ilir, dan "Pemuka Bangsa Raja".
Setiap kebuwayan mempunyai satu atau lebih penyimbang marga atau pemimpin kebuwayan. Penyimbang marga memiliki penyimbang di bawahnya, yakni penyimbang tiyuh, penyimbang suku, dan penyimbang saka.
Pemimpin yang menduduki penyimbang marga memiliki posisi tinggi. Ia dihormati layaknya "raja" yang memiliki kekhususan dalam satu kebuwayan.
Penyimbang marga menetap di rumah adat yang disebut nuwo balak. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, ada lawang kuri atau gapura, pusiban yang jadi tempat tamu melapor, ijan geladak atau tangga ke rumah, anjung-anjung atau serambi depan tempat menerima tamu, serambi tengah atau tempat duduk anggota kerabat pria, dan lapang agung atau tempat kumpul kerabat wanita.
Bagian muka nuwo, ada tiga ruang atau kamar, yakni kebik prumpu (ada yang kebik temen, kebik kerumpu) yang menjadi kamar tidur anak penyimbang bumi atau anak tertua laki-laki; kebik rangek yang menjadi kamar tidur penyimbang ratu atau anak lelaki kedua; dan kebik tengah, yaitu kamar tidur penyimbang batin atau anak ketiga lelaki.
Di Tiyuh Mesirilir ada tiga nuwo balak, yakni natar agung, bandar adat, dan gudang adat. Menurut R.A. Ikroni gelar Sutan Raja Alam, penglaku marga Bahuga, natar agung didiami keturunan Pangeran Mangku Alam, bandar adat oleh keturunan Ratu Mesir, dan gudang adat oleh Sutan Sumbahan.
Khusus Pangeran Mangku Alam, natar agung tidak turun ke anaknya karena ia tidak mempunyai anak lelaki. Dalam adat Lampung, pewaris adat adalah anak lelaki pertama. Nuwo itu turun ke Ratu Pria Bratangan atau Ryamor Ryacudu. "Ratu Pria-lah yang sehari-harinya mengurusi natar agung karena dia sudah diangkat anak oleh Pangeran Mangku Alam," ujar Ikroni, Minggu (29-1).
Natar agung berada di tengah Tiyuh Mesirilir. Anjung-anjung, serambi tengah, dan lapang agung nuwo ini tampak jejeran barang peninggalan dan foto Mayor Jenderal Purnawirawan Mussanif Ryacudu, ayah mantan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu dan Wakil Gubernur Syamsurya Ryacudu.
Jangan heran kalau jejak almarhum Ryacudu ada di natar agung. Pangeran Mangku Alam adalah kakak tertua Ryacudu, sedangkan Ryamor adalah anak kedua Ryacudu, adik Ryamizard. Ya, Mesirilir adalah kampung mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Tanjungpura ini.
Lima Kampung Adat
Mengapa tiyuh ini bernama Mesirilir? Berdasarkan penuturan Ikroni, tiyuh ini terdiri dari lima kampung adat, yakni Kampung Lemayang, Kampung Unggak, Kampung Tengah, Kampung Liba, dan Kampung Bumiaji. Setiap kampung memiliki leluhur, yang meninggalkan tradisi sendiri-sendiri.
Leluhur Kampung Lemayang adalah Tuan Said Jung Layang. Tuan Said diyakini berasal dari Mesir, namanya aslinya Said Abdullah. "Tuan Said masuk Mesirilir ini menunggang perahu terbang. Makanya kampung ini disebut Mesirilir. Dia sudah menurunkan 20 sampai 21 generasi di sini," ujar Ikroni, yang masih keturunan Kampung Bumiaji.
Moyang Kampung Unggak bernama Tuan Tajung Darussalam. Diperkirakan, Tuan Tajung menurunkan 21 generasi di tiyuh ini.
Kampung Tengah dari Rangkai Gedi. Keturunan lebih muda dari Lemayang dan Unggak, sekitar 18--19 generasi. "Dia dari Jawa, badannya besar, Makanya disebut Rangkai Gedi," ujar Ikroni.
Kemudian, Tuan Tanda Penghulu Padang menurunkan generasi di Kampung Liba. Tuanda Tanda Penghulu ini dikenal suka berperang dan sukar dikalahkan. "Meriam peninggalannya masih ada sampai sekarang. Tuan Tanda Penghulu menurunkan sekitar 20 generasi," kata Ikroni.
Leluhur Kampung Bumiaji adalah Kecapang Mak Nakin. "Leluhur kami ini dikenal sebagai orang yang tidak mau menyerah. Dia tidak mau kalah," ujar Ikroni.
Setiap kampung mempunyai ciri tersendiri, sesuai dengan kemampuan leluhurnya. Orang-orang Lemayang, Unggak, Kampung Tengah, mempunyai kemampuan supranatural dari leluhur mereka. "Kalau orang Liba dan Bumiaji dikenal sebagai orang-orang pemerintahan," kata Ikroni.
Terpencil tapi Besar
Siapa yang mengira kalau kebesaran tradisi buway Bahuga ini berada di tiyuh yang cukup terpencil. Kalau memulai perjalanan dari Baradatu atau Blambangan Umpu, kita butuh waktu 3,5-an jam mencapai tiyuh ini.
Kalau tidak melalui Martapura, Sumatera Selatan, kita akan melalui jalan onderlaag dan jalan tanah berlubang. Jalan buruk ini bisa memperlambat perjalanan dan memperpanjang waktu tempuh. Jika ingin jalan mulus, lintas Komering--Martapura adalah pilihan yang tepat menuju lokasi ini.
"Jalan di sini dibuka sejak zaman Belanda. Dulu, jalan di sini bagus. Karena peperangan, jalan-jalan jadi rusak. Dulu juga ada taksi Martaputra--Mesirilir," kata Ikroni.
Wajar saja kalau akhir 1800-an Tiyuh Mesirilir sudah dibuka. Kampung ini sempat menjadi pusat administrasi di bawah pimpinan H. Masri sebagai pesirah waktu itu. "Mesirilir sempat dapat penghargaan sebagai kampung bersih zaman itu," ujar Ikroni.
Kalau sampai ada taksi Martapura--Mesirilir, bisa dibayangkan seperti apa posisi kampung ini zaman Belanda dulu. Tentu saja, Mesirilir menjadi salah satu kampung tujuan. n MAT/ENO/M-2
Minggu, 19 Februari 2006
Menengok Kampung Ryacudu
Ada tradisi yang dipertahankan di Mesirilir. Memasuki kampung kelahiran Mayor Jenderal Purnawirawan Mussanif Ryacudu ini, kita akan merasakan suasana kultural khas kebuwayan Bahuga.
BERJALANLAH ke Kecamatan Bahuga, Way Kanan. Jangan berhenti sebelum Anda sampai Mesirilir, ibu kota kecamatan ini. Di sini, kita akan melihat perkampungan tradisional buway Bahuga--satu di antara lima kebuwayan suku Lampung di Kabupaten Way Kanan.
Di sini juga kita akan melihat jejeran rumah panggung berbahan papan tebal. Di tiyuh (kampung) ini juga kita akan bersentuhan dengan tradisi kebuwayan Bahuga yang sampai sekarang masih bertahan.
Tiyuh Mesirilir berdiri di dekat Sungai Umpu atau Way Umpu. Rumah-rumah panggung berjajar mengikuti garis sungai dan sepanjang jalan yang membelah perkampungan.
Rumah-rumah panggung berumur puluhan tahun ini--ada yang ratusan--membersitkan suasana kultural tersendiri. Papan hitam kecokelatan menandakan ketuaan rumah panggung di Mesirilir. Ada juga rumah panggung yang dicat, tapi ini tidak menghilangkan suasana kultural khas buway Bahuga.
Warga Mesirilir hidup dalam ikatan adat yang diwariskan leluhur mereka, Bahuga. Tradisi kebuwayan Bahuga ini memiliki latar cerita yang tidak bisa dilepas dari muasal lima kebuwayan Way Kanan.
Berdasarkan penuturan berbagai sumber, kebuwayan Way Kanan berasal dari lima kakak beradik kandung: Semenguk, Baradatu, Barasakti, Bahuga, dan Pangeran Pemuka. Dari lima garis keturunan ini, Pangeran Pemuka terpecah menjadi empat marga: Pangeran Pemuka Udik, Pangeran Pemuka Tua, Pangeran Pemuka Ilir, dan "Pemuka Bangsa Raja".
Setiap kebuwayan mempunyai satu atau lebih penyimbang marga atau pemimpin kebuwayan. Penyimbang marga memiliki penyimbang di bawahnya, yakni penyimbang tiyuh, penyimbang suku, dan penyimbang saka.
Pemimpin yang menduduki penyimbang marga memiliki posisi tinggi. Ia dihormati layaknya "raja" yang memiliki kekhususan dalam satu kebuwayan.
Penyimbang marga menetap di rumah adat yang disebut nuwo balak. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, ada lawang kuri atau gapura, pusiban yang jadi tempat tamu melapor, ijan geladak atau tangga ke rumah, anjung-anjung atau serambi depan tempat menerima tamu, serambi tengah atau tempat duduk anggota kerabat pria, dan lapang agung atau tempat kumpul kerabat wanita.
Bagian muka nuwo, ada tiga ruang atau kamar, yakni kebik prumpu (ada yang kebik temen, kebik kerumpu) yang menjadi kamar tidur anak penyimbang bumi atau anak tertua laki-laki; kebik rangek yang menjadi kamar tidur penyimbang ratu atau anak lelaki kedua; dan kebik tengah, yaitu kamar tidur penyimbang batin atau anak ketiga lelaki.
Di Tiyuh Mesirilir ada tiga nuwo balak, yakni natar agung, bandar adat, dan gudang adat. Menurut R.A. Ikroni gelar Sutan Raja Alam, penglaku marga Bahuga, natar agung didiami keturunan Pangeran Mangku Alam, bandar adat oleh keturunan Ratu Mesir, dan gudang adat oleh Sutan Sumbahan.
Khusus Pangeran Mangku Alam, natar agung tidak turun ke anaknya karena ia tidak mempunyai anak lelaki. Dalam adat Lampung, pewaris adat adalah anak lelaki pertama. Nuwo itu turun ke Ratu Pria Bratangan atau Ryamor Ryacudu. "Ratu Pria-lah yang sehari-harinya mengurusi natar agung karena dia sudah diangkat anak oleh Pangeran Mangku Alam," ujar Ikroni, Minggu (29-1).
Natar agung berada di tengah Tiyuh Mesirilir. Anjung-anjung, serambi tengah, dan lapang agung nuwo ini tampak jejeran barang peninggalan dan foto Mayor Jenderal Purnawirawan Mussanif Ryacudu, ayah mantan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu dan Wakil Gubernur Syamsurya Ryacudu.
Jangan heran kalau jejak almarhum Ryacudu ada di natar agung. Pangeran Mangku Alam adalah kakak tertua Ryacudu, sedangkan Ryamor adalah anak kedua Ryacudu, adik Ryamizard. Ya, Mesirilir adalah kampung mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Tanjungpura ini.
Lima Kampung Adat
Mengapa tiyuh ini bernama Mesirilir? Berdasarkan penuturan Ikroni, tiyuh ini terdiri dari lima kampung adat, yakni Kampung Lemayang, Kampung Unggak, Kampung Tengah, Kampung Liba, dan Kampung Bumiaji. Setiap kampung memiliki leluhur, yang meninggalkan tradisi sendiri-sendiri.
Leluhur Kampung Lemayang adalah Tuan Said Jung Layang. Tuan Said diyakini berasal dari Mesir, namanya aslinya Said Abdullah. "Tuan Said masuk Mesirilir ini menunggang perahu terbang. Makanya kampung ini disebut Mesirilir. Dia sudah menurunkan 20 sampai 21 generasi di sini," ujar Ikroni, yang masih keturunan Kampung Bumiaji.
Moyang Kampung Unggak bernama Tuan Tajung Darussalam. Diperkirakan, Tuan Tajung menurunkan 21 generasi di tiyuh ini.
Kampung Tengah dari Rangkai Gedi. Keturunan lebih muda dari Lemayang dan Unggak, sekitar 18--19 generasi. "Dia dari Jawa, badannya besar, Makanya disebut Rangkai Gedi," ujar Ikroni.
Kemudian, Tuan Tanda Penghulu Padang menurunkan generasi di Kampung Liba. Tuanda Tanda Penghulu ini dikenal suka berperang dan sukar dikalahkan. "Meriam peninggalannya masih ada sampai sekarang. Tuan Tanda Penghulu menurunkan sekitar 20 generasi," kata Ikroni.
Leluhur Kampung Bumiaji adalah Kecapang Mak Nakin. "Leluhur kami ini dikenal sebagai orang yang tidak mau menyerah. Dia tidak mau kalah," ujar Ikroni.
Setiap kampung mempunyai ciri tersendiri, sesuai dengan kemampuan leluhurnya. Orang-orang Lemayang, Unggak, Kampung Tengah, mempunyai kemampuan supranatural dari leluhur mereka. "Kalau orang Liba dan Bumiaji dikenal sebagai orang-orang pemerintahan," kata Ikroni.
Terpencil tapi Besar
Siapa yang mengira kalau kebesaran tradisi buway Bahuga ini berada di tiyuh yang cukup terpencil. Kalau memulai perjalanan dari Baradatu atau Blambangan Umpu, kita butuh waktu 3,5-an jam mencapai tiyuh ini.
Kalau tidak melalui Martapura, Sumatera Selatan, kita akan melalui jalan onderlaag dan jalan tanah berlubang. Jalan buruk ini bisa memperlambat perjalanan dan memperpanjang waktu tempuh. Jika ingin jalan mulus, lintas Komering--Martapura adalah pilihan yang tepat menuju lokasi ini.
"Jalan di sini dibuka sejak zaman Belanda. Dulu, jalan di sini bagus. Karena peperangan, jalan-jalan jadi rusak. Dulu juga ada taksi Martaputra--Mesirilir," kata Ikroni.
Wajar saja kalau akhir 1800-an Tiyuh Mesirilir sudah dibuka. Kampung ini sempat menjadi pusat administrasi di bawah pimpinan H. Masri sebagai pesirah waktu itu. "Mesirilir sempat dapat penghargaan sebagai kampung bersih zaman itu," ujar Ikroni.
Kalau sampai ada taksi Martapura--Mesirilir, bisa dibayangkan seperti apa posisi kampung ini zaman Belanda dulu. Tentu saja, Mesirilir menjadi salah satu kampung tujuan. n MAT/ENO/M-2
Jumat, 03 Desember 2010
Wat Pesawat terbang guway mulang tiyuh...
Semoga gawoh urusan sa berkelanjutan jadi sai haga mulang tiyuh mak susah2 lagi, tp dang lupa pak bupati helau kan jalan2 sai aduk tiyuh tuha bangi bangik perjalanan na.
TRANSPORTASI: 2 Pesawat Komersial Uji Coba ke Way KananWAY TUBA (Lampost): Dua buah pesawat komersial Susi Air melakukan uji coba pendaratan perdana di Lapangan Udara Angkatan Darat (Lanudat) Gatot Subroro, Way Tuba, Kabupaten Way Kanan, Kamis (2-12).
Hal itu berkaitan dengan rencana penggunaan Lanudat sebagai bandara komersial sipil pada 2011.
Pesawat pertama jenis Piaggio P180 Avanti, PK BVV Susi Vip mendarat tepat pukul 09.30, dengan enam penumpang, di antaranya Bupati Way Kanan Bustami Zainudin, Sekprov Lampung Hanan A. Razak, serta Kasdam II Sriwijaya Mayjen TNI Harry Purdinato. Pesawat jet dengan pilot Christian Von Strombeck dan Copilot Tom Price.
Selanjutnya, tepat pukul 10.00, pesawat kedua Cessna C2008 Grand Carapan jenis Propjet PK-VVM mendarat dengan 12 penumpang. Rombongan dipimpin Kepala Bapeda Kabupaten Way Kanan Kussarwono dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat.
Presiden Direktur (Persedir) Susi Air, Susi Puji Astuti, menjelaskan pendaratan perdana dua pesawat komersil itu merupakan tindak lanjut dari memorandum of understanding (MoU) Pemkab Way Kanan mengenai rencana penggunaan Lanudat sebagai bandara komersial rute Way Kanan—Jakarta dengan ongkos tiket Rp1 juta.
Saat ini, Susi Air bekerja sama dengan beberapa kabupaten/kota dalam bidang transportasi udara. "Untuk Pulau Sumatera, kami telah melayani delapan kali penerbangan setiap hari," kata Susi.
Susi menjelaskan perusahaan itu berdiri pada 7 Januari 2005, dengan jumlah pesawat awal dua buah. Saat ini, jumlah pesawat telah mencapai 38 unit dan pada Desember akan didatangkan 5 pesawat baru serta jumlah pilot 130 orang.
Bupati Way Kanan Bustami Zainudin menjelaskan penggunaan Lanudat sebagai bandara komersial merupakan gagasan Gubernur Lampung dan Gubernur Sumatera Selatan sejak 2006.
Apalagi lokasi Lanudat sangat strategis dan didukung lima kabupaten terdekat, yakni Lampung Barat, OKU Timur, OKU Induk, OKU Selatan, dan Kabupaten Way Kanan.
Bupati yakin bandara komersial itu akan maju. "Hanya dengan satu jam dan ongkos satu juta rupiah, kami telah sampai di Ibu Kota," kata dia.
Dalam kesempatan itu, Susi Air memberikan kesempatan selama tiga kali penerbangan untuk jajaran Forkopimda, media massa, dan masyarkat menikmati penerbangan selama kurang lebih 25 menit di udara mengelilingi wilayah kabupaten setempat. Dengan menggunakan pesawat Cessna C2008 Grand Carapan dengan Pilot M. Hasri serta Copilot Dommingue. (LEH/R-2)
TRANSPORTASI: 2 Pesawat Komersial Uji Coba ke Way KananWAY TUBA (Lampost): Dua buah pesawat komersial Susi Air melakukan uji coba pendaratan perdana di Lapangan Udara Angkatan Darat (Lanudat) Gatot Subroro, Way Tuba, Kabupaten Way Kanan, Kamis (2-12).
Hal itu berkaitan dengan rencana penggunaan Lanudat sebagai bandara komersial sipil pada 2011.
Pesawat pertama jenis Piaggio P180 Avanti, PK BVV Susi Vip mendarat tepat pukul 09.30, dengan enam penumpang, di antaranya Bupati Way Kanan Bustami Zainudin, Sekprov Lampung Hanan A. Razak, serta Kasdam II Sriwijaya Mayjen TNI Harry Purdinato. Pesawat jet dengan pilot Christian Von Strombeck dan Copilot Tom Price.
Selanjutnya, tepat pukul 10.00, pesawat kedua Cessna C2008 Grand Carapan jenis Propjet PK-VVM mendarat dengan 12 penumpang. Rombongan dipimpin Kepala Bapeda Kabupaten Way Kanan Kussarwono dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat.
Presiden Direktur (Persedir) Susi Air, Susi Puji Astuti, menjelaskan pendaratan perdana dua pesawat komersil itu merupakan tindak lanjut dari memorandum of understanding (MoU) Pemkab Way Kanan mengenai rencana penggunaan Lanudat sebagai bandara komersial rute Way Kanan—Jakarta dengan ongkos tiket Rp1 juta.
Saat ini, Susi Air bekerja sama dengan beberapa kabupaten/kota dalam bidang transportasi udara. "Untuk Pulau Sumatera, kami telah melayani delapan kali penerbangan setiap hari," kata Susi.
Susi menjelaskan perusahaan itu berdiri pada 7 Januari 2005, dengan jumlah pesawat awal dua buah. Saat ini, jumlah pesawat telah mencapai 38 unit dan pada Desember akan didatangkan 5 pesawat baru serta jumlah pilot 130 orang.
Bupati Way Kanan Bustami Zainudin menjelaskan penggunaan Lanudat sebagai bandara komersial merupakan gagasan Gubernur Lampung dan Gubernur Sumatera Selatan sejak 2006.
Apalagi lokasi Lanudat sangat strategis dan didukung lima kabupaten terdekat, yakni Lampung Barat, OKU Timur, OKU Induk, OKU Selatan, dan Kabupaten Way Kanan.
Bupati yakin bandara komersial itu akan maju. "Hanya dengan satu jam dan ongkos satu juta rupiah, kami telah sampai di Ibu Kota," kata dia.
Dalam kesempatan itu, Susi Air memberikan kesempatan selama tiga kali penerbangan untuk jajaran Forkopimda, media massa, dan masyarkat menikmati penerbangan selama kurang lebih 25 menit di udara mengelilingi wilayah kabupaten setempat. Dengan menggunakan pesawat Cessna C2008 Grand Carapan dengan Pilot M. Hasri serta Copilot Dommingue. (LEH/R-2)
Selasa, 28 September 2010
Biduk Umpu Serunting
Biduk Umpu Serunting
Penulis Arief R
Rabu, 13 Januari 2010
Biduk Umpu Serunting adalah sebuah batu, dimasyarakat Way Kanan memiliki cerita sendiri dimana, menurut cerita rakyat Way kanan mengandung sejarah nenek moyang Way Kanan yang bernama “Umpu Serunting”, di daerah ini ada biduk berubah menjadi batu yang sampai saat ini masih bisa kita temui, konon biduk tersebut adalah milik Umpu serunting yang kandas di puncak bukit harapan nasib pada perkampungan Bukit Gemuruh Kecamatan Way Tuba. Sekilas memang Batu tersebut jika kita amati mirip dengan Perahu dan ada telapak kaki orang purba.Wilayah ini sangat cocok untuk wisata alam petualangan (pendakian). Keunikan daerah ini terdapat pada perpaduan antara panorama alam dengan wisata budaya. Jarak dari ibukota kabupaten ± 41 km
Penulis Arief R
Rabu, 13 Januari 2010
Biduk Umpu Serunting adalah sebuah batu, dimasyarakat Way Kanan memiliki cerita sendiri dimana, menurut cerita rakyat Way kanan mengandung sejarah nenek moyang Way Kanan yang bernama “Umpu Serunting”, di daerah ini ada biduk berubah menjadi batu yang sampai saat ini masih bisa kita temui, konon biduk tersebut adalah milik Umpu serunting yang kandas di puncak bukit harapan nasib pada perkampungan Bukit Gemuruh Kecamatan Way Tuba. Sekilas memang Batu tersebut jika kita amati mirip dengan Perahu dan ada telapak kaki orang purba.Wilayah ini sangat cocok untuk wisata alam petualangan (pendakian). Keunikan daerah ini terdapat pada perpaduan antara panorama alam dengan wisata budaya. Jarak dari ibukota kabupaten ± 41 km
Selasa, 21 September 2010
Syair Lagu: SEMINUNG
SEMINUNG
Seminung di kala dibi
Cahyani kuning gegoh emas
Cukutni hamparan mata
Tebingni ngejutko hati
Manuk-manuk behamboran
Dija dudi ragom bepantun
Ngerasako angin Seminung
Cerita jak zaman saka
Reff:
Segala huma di zaman timbai
Tanom tumbuh tuwoh mak buhantara
Seminung sikop dilingkari wai
Kurnia Tuhan Mahakuasa
Seminung di kala dibi
Cahyani kuning gegoh emas
Cukutni hamparan mata
Tebingni ngejutko hati
Manuk-manuk behamboran
Dija dudi ragom bepantun
Ngerasako angin Seminung
Cerita jak zaman saka
Reff:
Segala huma di zaman timbai
Tanom tumbuh tuwoh mak buhantara
Seminung sikop dilingkari wai
Kurnia Tuhan Mahakuasa
Lagu : Sang Bumi Ruwa Jurai
Sang Bumi Ruwa Jurai
Jak ujung Danau Ranau
Teliu mit Way Kanan
Sampai pantai lawok jawo
Pesisir rik Pepadun
Jadi sai delom lamban
Lampung sai kaya-raya
Kik ram haga burasan
Hujau ni pemandangan
Huma lada di pematang
Api lagi cengkeh ni
Telambun beruntaian
Tanda ni kemakmuran
Lampung sai...
Sang bumi ruwa jurai 2x
Cangget bara bulaku
Sembah jama saibatin
Sina gawi adat sikam
Manjau rik sebambangan
Tari rakot rik melinting
Ciri ni ulun Lampung
Lampung sai...
Sang bumi ruwa jurai 2x
Lagu: Sang Bumi Ruwa Jurai
Cipt : Syaiful Anwar
Jak ujung Danau Ranau
Teliu mit Way Kanan
Sampai pantai lawok jawo
Pesisir rik Pepadun
Jadi sai delom lamban
Lampung sai kaya-raya
Kik ram haga burasan
Hujau ni pemandangan
Huma lada di pematang
Api lagi cengkeh ni
Telambun beruntaian
Tanda ni kemakmuran
Lampung sai...
Sang bumi ruwa jurai 2x
Cangget bara bulaku
Sembah jama saibatin
Sina gawi adat sikam
Manjau rik sebambangan
Tari rakot rik melinting
Ciri ni ulun Lampung
Lampung sai...
Sang bumi ruwa jurai 2x
Lagu: Sang Bumi Ruwa Jurai
Cipt : Syaiful Anwar
Langganan:
Postingan (Atom)
