Waykanan Bentuk "Gamolan Musik Ansambel"
Selasa, 28 Juni 2011 07:58 WIB
Waykanan (ANTARA LAMPUNG) - Dosen Program Studi Seni Tari FKIP Universitas Lampung (Unila) Hasyimkan dan pegiat seni di Kabupaten Waykanan Ferry Yanto sepakat membentuk komunitas "Gamolan Musik Ansambel" untuk melestarikan serta mengenalkan alat musik tradisional Lampung itu kepada khalayak dan generasi muda.
"Saya akan mempersiapkan laboratorium di Bandarlampung, sementara di Waykanan kami akan mengajarkan alat musik itu kepada anak-anak muda di daerah," kata Hasyimkan di Blambanganumpu yang berjarak sekitar 200 km sebelah utara kota Bandarlampung, Selasa.
Didampingi Ferry Yanto, ia menjelaskan saat ini sudah ada sekitar 70 pelajar SMA yang berminat untuk berpartisipasi sehubungan Majelis Penyimbang Adat Lampung juga mendukung pelestariannya.
"Menjaga tradisi atau kebudayaan tidak sekedar melakukan riset semata, namun juga perlu aksi dan melibatkan generasi muda supaya mengenal, memahami dan tentu saja bisa memainkannya," kata peneliti gamolan selama tiga tahun itu.
Gamolan merupakan alat musik tradisional Lampung yang terdiri dari delapan lempengan bambu yang diikat secara bersambungan dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada di setiap lempengan dan disimpul di bagian teratas lempeng.
Alat musik itu berasal dari kata `begamol` yang artinya berkumpul dan diperkirakan telah ada sekitar abad ke-4 Masehi dan mengalami puncak perkembangannya di abad ke-5 Masehi.
"Gamolan pada zaman dahulu merupakan kebutuhan masyarakat untuk berkomunikasi seperti halnya SMS, kami berharap pergerakan kreatifitas di waktu lampau tidak hilang atau dihilangkan dengan penggantian nama seperti cethik atau kolintang," katanya.
Penggantian nama itu melukai kearifan lokal, karena itu harus dikembalikan ke nama aslinya, mengingat sekarang ini bukan zaman Soeharto lagi yang dengan kekuatan politisnya bisa mengubah nama Bambuseribu menjadi Pringsewu, Kalibalau menjadi Kalibalok.
Perihal ketertarikannya mengajak pelajar Waykanan, sambung dia, istilah begamol di lima kebuayan atau masyarakat adat keturunan silsilah Bangsa Raja di daerah itu ada dan dikenal dengan nama 'pegamolan' secara literatur, seperti di Kecamatan Bahuga, Negeribesar, Pakuanratu, Blambanganumpu dan di Kampung Mesirilir.
"Tapi pada hakikatnya, siapapun itu jelma atau orang Lampung, yakni seseorang yang bergantung pada tanah, air, api dan udara di Provinsi Lampung berhak berpartisipasi melestarikan gamolan tanpa terkecuali," tandasnya. (ANTARA/PSO-049)
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © 2011
Senin, 24 Oktober 2011
Tapis Bidak Galah Napuh (Leher Kancil)

Sumber: Radar Lampung
LAMPUNG memang kaya akan peninggalan benda-benda kesenian bersejarah, termasuk kain. Begitu kayanya, beberapa di antaranya terlupakan, termasuk Kain Bidak Galah Napuh.
Ketua Yayasan Tenun Peduli Tradisional Lampung Raswan menceritakan, lebih dari lima tahun, ia baru bisa membuat Kain Bidak Galah Napuh tersebut. Mulai penemuan motif asli hingga teknik pembuatannya. Ia mengatakan mengetahui keberadaan kain ini dari beberapa buku Indonesia Tekstil dan cerita dari orang-orang terdahulu.
Banyak kendala yang harus dilewatinya untuk menemukan kain ini. Selain karena motif asli kain itu sudah tidak bisa ditemukan lagi di tempat asalnya, yakni Kabupaten Waykanan, yang memilikinya juga tidak banyak. Bahkan untuk menemukan kain ini, ia mendapatkan contoh motif dari seorang teman yang merupakan kolektor benda-benda antik yang berdomisili di Jakarta. ’’Itu pun tidak bisa dipinjam, hanya boleh foto,” kenangnya.
Selain kesulitan menemukan kain asli dan motifnya, ia harus mengecek apakah benar motif tersebut merupakan asli dari Kain Bidak Galah Napuh, yakni bentuknya simetris dengan ciri khas bintik-bintik putih seperti leher kancil dan geometris.
’’Jadi observasinya juga cukup lama, karena kita tidak bisa langsung membuat tanpa tahu apakah ini motif asli dari Lampung,” ungkapnya.
Belum lagi, lanjut dia, pencarian sumber daya manusia (SDM)-nya sangat sulit karena proses pembuatan ini memerlukan tangan-tangan yang terampil. ’’Teknik pembuatannya sangat rumit dan tingkat kesulitannya begitu tinggi, penggabungan kain inuh dan songket,” terangnya.
Prosesnya, sambut Raswan, dengan cara benang dicelup dengan ikatan bagian per bagian. Kemudian dicelup dengan ATBM, yakni alat tenun yang merupakan pengembangan dari alat tenun nusantara. Dan penyungkitan seperti pembuatan songket, ATBM ini menggunakan sisirnya buatan Jepang dari Kyoto yang harganya puluhan juta.
Lelaki kelahiran 14 Maret 1966 ini menuturkan, karena tidak dimiliki banyak orang, dulunya kain ini digunakan untuk pakaian adat dari Waykanan, pengantin laki-laki, selingkep orang Lampung penutup badan laki-laki, dan juga sebagai penutup mayat.
Namun, terus Raswan, Kain Bidak Galah Napuh ini bisa dibuat kemeja, baju cewek, bahkan tapis khusunya tapis Kabupaten Waykanan yang berciri khas binatang-binatang. Untuk satu baju saja harganya bisa Rp400 ribu berukuran 2 meter 20.
’’Sebenarnya sudah banyak yang berminat, terlebih wisatawan lokal dan mancanegara. Tetapi tidak saya jual karena ini belum dipatenkan, sampai launching pada acara pameran nasional pertengahan Oktober di Hotel Ritz Calton di Jakarta. Serta akan didokumentasikan oleh Dekranasda Pusat dan majalah Kriya Dekranasda Nasional di bawah binaan Istri Ibu Andi Mallarangeng,” paparnya. (*)
Laporan Maria Ulfa, Radar Lampung
Senin, 03 Oktober 2011
Senin, 20 Juni 2011
Silsilah Pepadun "Pasar Negara", marga Buay Pemuka Bangsa Raja
Di Negeri Besar marga Buay Pemuka Bangsa Raja nayah temon Pepadun, salah sai na pepadun "Pasar Negara", pepadun sa mecoh jak pepadun "Pasar Agung"
Wattu cakak pepadun, Kepala Migo mesol 19 kerbau guwai begawi adat.

Dibah sa silsilah Pepadun "Pasar Negara". ulah sai berlaku sistem patrilineal, sai wat disilsilah sa hanya, sanak keturunan sai ragah bugawoh.
Jumat, 10 Juni 2011
Bugurau Cipt. Fath Syahbuddin
Mati kak senong hatiku kebiyan sa, nyak tungguk pattun sai helau karangan Pak Fath Syahbuddin yakni "Bugurau"
Lamun mak salah, Nyak pandai pattun sa kira2 tahun 1993 anjak kaset Papiku di kutabumi, delom kaset sina nayah pattun sai bareh, lom dialek abung, sungkai, peseser dll, unyinna helau2 munih.
Terakhir nyak nengiskon/niyongkon lagu sa thn 1994, wattu kuliah di Pelimbang kebetulan RRI pelimbang mutarkon kaset sina jak awal hingga akhir.
Bak api "Bugurau" sai pagun diingok, ulah lagu sa pattun na ceria dan dibawakan lom dialek way kanan.
Jadi kak sekitar >15 thn, ampai nyak dapok nengiskon luwot lagu sa, terima kasih jama kuti rumpok sai radu batokkon lagu sa di internet walaupun kualitas file audio na mak temon helau.
Kilu mahaf jama Pak Fath Syahbuddin layon sikam mak haga ngebeli kaset/cd na tapi makkung tungguk dipa sai ngejualna, na'on lamun sikam mulang aguk kutabumi, sikam haga ngunut na luwot.
Sija kira2 Lirik Pattun Bugurau, anyin mak temon lengkap ulah kualitas audio na mak temon helau.
"BUGURAU"
Blambangan layon di tanoh Jawa
Way Kanan buwatos di Way Tuba
Sikop nihan dandanan muli ganta
Gincu jilak mik'ap cak bahasana
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Kewajiban tingkah laku rik cawa
Bakdia dang serokkon dihati
Tiyuh Mesir layon di Timur Tengah
Marega kebuwayan Bahuga
------ -------- guway tanda panggilan
Gambang nyak ampai jak jual lada
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Najin ram calak pintor sekula
Mak liyu anjak elmu parie
Baradatu jawoh jak negeri inggries
Pasaran karet kupi rik lada
Ki cawamu layon kadar ngelawis
Ram sanggup bugawi dija duda
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Wat nekan ram kanik jama jama
Ragom ram setenan miwang nanti (?)
Sri Menanti kak dihujung Way Kanan
Bulangan rahcana (?) negeri Sungkay
Malu hati makngedok kemiwahan
Nyak gambang mun nganak mak cukup say
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Bakdia ram liwat/liyu sampai dija
Harapan kutungga muloh nanti
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Kewajiban tingkah laku rik cawa
Bakdia dang serokkon dihati
Lamun mak salah, Nyak pandai pattun sa kira2 tahun 1993 anjak kaset Papiku di kutabumi, delom kaset sina nayah pattun sai bareh, lom dialek abung, sungkai, peseser dll, unyinna helau2 munih.
Terakhir nyak nengiskon/niyongkon lagu sa thn 1994, wattu kuliah di Pelimbang kebetulan RRI pelimbang mutarkon kaset sina jak awal hingga akhir.
Bak api "Bugurau" sai pagun diingok, ulah lagu sa pattun na ceria dan dibawakan lom dialek way kanan.
Jadi kak sekitar >15 thn, ampai nyak dapok nengiskon luwot lagu sa, terima kasih jama kuti rumpok sai radu batokkon lagu sa di internet walaupun kualitas file audio na mak temon helau.
Kilu mahaf jama Pak Fath Syahbuddin layon sikam mak haga ngebeli kaset/cd na tapi makkung tungguk dipa sai ngejualna, na'on lamun sikam mulang aguk kutabumi, sikam haga ngunut na luwot.
Sija kira2 Lirik Pattun Bugurau, anyin mak temon lengkap ulah kualitas audio na mak temon helau.
"BUGURAU"
Blambangan layon di tanoh Jawa
Way Kanan buwatos di Way Tuba
Sikop nihan dandanan muli ganta
Gincu jilak mik'ap cak bahasana
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Kewajiban tingkah laku rik cawa
Bakdia dang serokkon dihati
Tiyuh Mesir layon di Timur Tengah
Marega kebuwayan Bahuga
------ -------- guway tanda panggilan
Gambang nyak ampai jak jual lada
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Najin ram calak pintor sekula
Mak liyu anjak elmu parie
Baradatu jawoh jak negeri inggries
Pasaran karet kupi rik lada
Ki cawamu layon kadar ngelawis
Ram sanggup bugawi dija duda
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Wat nekan ram kanik jama jama
Ragom ram setenan miwang nanti (?)
Sri Menanti kak dihujung Way Kanan
Bulangan rahcana (?) negeri Sungkay
Malu hati makngedok kemiwahan
Nyak gambang mun nganak mak cukup say
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Bakdia ram liwat/liyu sampai dija
Harapan kutungga muloh nanti
Bugurau bugurau ram unyinna
Dang lupa jama adat puranti
Kewajiban tingkah laku rik cawa
Bakdia dang serokkon dihati
Jumat, 29 April 2011
HUT ke 12 Way Kanan
HUT KE-12 WAY KANAN: Paripurna Berlangsung Khidmat
BLAMBANGAN UMPU (Lampost): Hari ulang tahun ke-12 Kabupaten Way Kanan diperingati dalam sidang paripurna istimewa DPRD setempat dengan khidmat.
Sidang peringatan kelahiran kabupaten itu dihadari seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, serta para pejabat teras Pemkab setempat.
Paripurna istimewa itu dipimpin Ketua DPRD Way Kanan Marsidi Hasan, dihadiri Bupati Way Kanan Bustami Zainudin, mantan Ketua DPRD setempat Jhonis Idris. Seluruh peserta sidang mengenakan pakaian adat Way Kanan.
Pada kesempatan itu Bustami Zainudin mengatakan tidak terasa Way Kanan berusia 12 tahun. Sejak berdiri, 27 April 1999, kelahiran kabupaten tersebut berdasar UU No. 12 Tahun 1999, bersamaan dengan Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro.
Menurut Bustami, usia 12 tahun merupakan usia transisi menuju produktif, dewasa, dan matang. Untuk itu, perlu direnungkan apa yang telah diperbuat di Negeri Ramik Ragom, Way Kanan Bumi Petani ini. "Walau telah banyak kita perbuat, lebih banyak lagi yang belum kita lakukan," kata Bustami.
Perbedaan pendapat dan sudut pandang dalam menilai kemajuan Kabupaten Way Kanan, kata dia, sebaiknya dijadikan bahan evaluasi untuk kemajuan pembangunan ke depan.
Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada pendahulu yang berjasa melakukan dan mengisi pembangunan dengan tulus ikhlas. Sebab, lahirnya kabupaten itu bukan terbentuk begitu saja, ada perjuangan panjang mulai tahun 1957 hingga tahun 1999. Oleh seluruh pihak, DPR RI, Pemprov Lampung, Pemkab Lampung Utara, dan Universitas Lampung. "Tokoh adat, masyarakat, dan lembaga formal, baik yang ada di dalam atau di luar Kabupaten Way Kanan," kata Bustami.
Dalam momentum HUT ini, kata Bupati, perlu diperingati dan dilaksanakan. Tujuannya mengenang jasa para sesepuh yang telah gigih dan terus-menerus mencetuskan gagasan terbentuknya Kabupaten Way Kanan. "Saat ini Kabupaten Way Kanan memiliki 14 wilayah kecamatan dan 6 kelurahan," kata dia.
Puncak peringatan diisi dengan upacara khusus di halaman Pemkab setempat, dengan inspektur upacara Bupati Way Kanan Bustami Zainudin, Rabu (27-4) pagi. Dalam upacara itu, Bupati juga memberikan penghargaan kepada tokoh yang telah mendukung dan memperjuangkan lahirnya Kabupaten Way Kanan. (LEH/D-3).
Sumber: Lampung Post 28/04/11
BLAMBANGAN UMPU (Lampost): Hari ulang tahun ke-12 Kabupaten Way Kanan diperingati dalam sidang paripurna istimewa DPRD setempat dengan khidmat.
Sidang peringatan kelahiran kabupaten itu dihadari seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, serta para pejabat teras Pemkab setempat.
Paripurna istimewa itu dipimpin Ketua DPRD Way Kanan Marsidi Hasan, dihadiri Bupati Way Kanan Bustami Zainudin, mantan Ketua DPRD setempat Jhonis Idris. Seluruh peserta sidang mengenakan pakaian adat Way Kanan.
Pada kesempatan itu Bustami Zainudin mengatakan tidak terasa Way Kanan berusia 12 tahun. Sejak berdiri, 27 April 1999, kelahiran kabupaten tersebut berdasar UU No. 12 Tahun 1999, bersamaan dengan Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro.
Menurut Bustami, usia 12 tahun merupakan usia transisi menuju produktif, dewasa, dan matang. Untuk itu, perlu direnungkan apa yang telah diperbuat di Negeri Ramik Ragom, Way Kanan Bumi Petani ini. "Walau telah banyak kita perbuat, lebih banyak lagi yang belum kita lakukan," kata Bustami.
Perbedaan pendapat dan sudut pandang dalam menilai kemajuan Kabupaten Way Kanan, kata dia, sebaiknya dijadikan bahan evaluasi untuk kemajuan pembangunan ke depan.
Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada pendahulu yang berjasa melakukan dan mengisi pembangunan dengan tulus ikhlas. Sebab, lahirnya kabupaten itu bukan terbentuk begitu saja, ada perjuangan panjang mulai tahun 1957 hingga tahun 1999. Oleh seluruh pihak, DPR RI, Pemprov Lampung, Pemkab Lampung Utara, dan Universitas Lampung. "Tokoh adat, masyarakat, dan lembaga formal, baik yang ada di dalam atau di luar Kabupaten Way Kanan," kata Bustami.
Dalam momentum HUT ini, kata Bupati, perlu diperingati dan dilaksanakan. Tujuannya mengenang jasa para sesepuh yang telah gigih dan terus-menerus mencetuskan gagasan terbentuknya Kabupaten Way Kanan. "Saat ini Kabupaten Way Kanan memiliki 14 wilayah kecamatan dan 6 kelurahan," kata dia.
Puncak peringatan diisi dengan upacara khusus di halaman Pemkab setempat, dengan inspektur upacara Bupati Way Kanan Bustami Zainudin, Rabu (27-4) pagi. Dalam upacara itu, Bupati juga memberikan penghargaan kepada tokoh yang telah mendukung dan memperjuangkan lahirnya Kabupaten Way Kanan. (LEH/D-3).
Sumber: Lampung Post 28/04/11
Senin, 04 April 2011
Mulang Tiuh
Resensi : ‘Mulang Tiuh’, Membangun Way Kanan
Judul buku : Mulang Tiuh (Pulang Kampung Nih...)
Penulis : Bustami Zainuddin Gelar Raja Sepulau Lampung
Penerbit : Institut Studi Arus Informasi (ISAI)
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal : 125 halaman
BELUM banyak kabupaten di Provinsi Lampung yang merumuskan konsep pembangunan daerahnya ke dalam sebuah buku. Salah satu yang melakukan program positif ini adalah Pemkab Way Kanan, yang baru-baru ini menerbitkan buku Mulang Tiuh pada 20 Maret lalu di Hotel Novotel, Bandar Lampung.
Buku Mulang Tiuh berangkat dari gagasan Bupati Way Kanan, Bustami Zainudin Gelar Raja Sepulau Lampung. Menurut Bustami, semenjak berdirinya Way Kanan, belum ada satu pun program solutif yang dapat mengatasi masalah Way Kanan. Kabupaten ini tidak memiliki acuan yang bisa dijadikan model. Di bawah kepemimpinannya, semangat mulang tiuh dijadikan dasar refleksi dalam membangun Way Kanan sebagai Bumi Petani.
Dalam sambutannya buku ini, Menteri Pertanian Suswono menerangkan ajakan mulang tiuh atau pulang kampung sebagai bagian integral dalam rangka mewujudkan Way Kanan Bumi Petani dengan memobilisasi sumber daya yang ada dari seluruh masyarakat Way Kanan, termasuk yang ada di perantauan.
Sementara Jenderal Purn. Ryamizard Ryacudu, salah seorang putra Way Kanan, mengungkapkan bahwa melalui semangat mulang tiuh ini akan mengeratkan kembali ikatan tali kerukunan kita sebagai bangsa.
Buku ini ingin mengubah paradigma masyarakat bahwa petani adalah pekerjaan yang kurang terpandang di tengah-tengah masyarakat. Padahal, pertanian dan perkebunan bila digarap dengan serius akan menciptakan penghasilan atau aset sehingga terwujudlah solusi alternatif bagi kesejahteraan masyarakat.
Dalam menginventarisasi masalah yang ada di Way Kanan, buku ini merumuskan roadmap dan action planning. Titik tekannya dalam pembenahan internal dan eksternal. Pembenahan internal yang dimaksud adalah reformasi birokrasi. Sistem baru yang ditawarkan bupati bertujuan membongkar situasi birokrasi yang cenderung masih berbelit-belit. Sementara itu dari sisi eksternal, mengajak seluruh masyarakat Way Kanan untuk membangun kampung halamannya dan menyinergikan semangat kebersamaan dengan spirit mulang tiuh.
Mulang tiuh tidak harus berkonotasi secara fisik yang berupa perpindahan badaniah dari tempat yang jauh ke kampung halaman, tetapi lebih jauh lagi, yaitu ke kesadaran paling awal, perjalanan kembali ke kampung jiwa dan ke akar budaya.
Bahwa mereka yang pernah lahir dan besar di Way Kanan, kemudian merantau dan kondisi sosial ekonominya telah mapan, hendaknya menyadari bahwa tiuh punya saham besar membentuk para perantau tersebut, bahwa tradisilah yang kemudian membentuk watak dan bakat mereka.
Intinya, aktivitas mulang tiuh akan menjadi produktif jika tiuh disambangi dalam satu kesadaran utuh: berbakti kepada tanah kelahiran.
Masyarakat Way Kanan di perantauan barangkali telah terseret jauh dalam derasnya laju pembangunan, pengaruh globalisasi, teknologi, dan sebagainya. Melalui spirit mulang tiuh ini kita diajak bercermin kembali, melihat siapa diri kita, dari mana berasal, dan apa yang sudah kita dedikasikan kepada kampung halaman.
Dengan mengenang kampung sebagai nucleus cosmic kesadaran, diharapkan para perantau bergerak menuju ke titik yang sama. Spirit inilah yang menggerakan perubahan di desa dan memberikan impuls perubahan.
Bumi Petani terdiri dari dua pengertian filosofis, Bumi sebagai potensi sumber daya alam yang luar biasa dan Petani sebagai sumber daya manusia. Selain itu, program ini merupakan terobosan pembangunan yang berbasis kearifan lokal, kreatif, inovatif, dan berkarakter.
Buku Mulang Tiuh ini menarik untuk dibaca siapa saja yang ingin menyimak kondisi kontekstual, juga visi misi Way Kanan lima tahun ke depan di bawah kepemimpinan Bustami Zainuddin. Selain menjadi acuan dasar dalam mengisi pembangunan di Way Kanan, buku ini juga memberikan inspirasi dan harapan secara khusus kepada masyarakat Way Kanan untuk membangun kampung halamannya. Sedikit kekurangan buku ini, tidak disertakannya sejarah terbentuknya Kabupaten Way Kanan.
Bupati Way Kanan melalui buku Mulang Tiuh ini mengimbau seluruh masyarakat Way Kanan, terutama yang ada di perantauan, untuk bersama-sama kembali dan berbakti kepada kampung halaman, sekaligus mendukung program pembangunan di Bumi Petani.
Edi Siswanto, pembaca buku
Sumber: Lampung Post 3 April 2011
Judul buku : Mulang Tiuh (Pulang Kampung Nih...)
Penulis : Bustami Zainuddin Gelar Raja Sepulau Lampung
Penerbit : Institut Studi Arus Informasi (ISAI)
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal : 125 halaman
BELUM banyak kabupaten di Provinsi Lampung yang merumuskan konsep pembangunan daerahnya ke dalam sebuah buku. Salah satu yang melakukan program positif ini adalah Pemkab Way Kanan, yang baru-baru ini menerbitkan buku Mulang Tiuh pada 20 Maret lalu di Hotel Novotel, Bandar Lampung.
Buku Mulang Tiuh berangkat dari gagasan Bupati Way Kanan, Bustami Zainudin Gelar Raja Sepulau Lampung. Menurut Bustami, semenjak berdirinya Way Kanan, belum ada satu pun program solutif yang dapat mengatasi masalah Way Kanan. Kabupaten ini tidak memiliki acuan yang bisa dijadikan model. Di bawah kepemimpinannya, semangat mulang tiuh dijadikan dasar refleksi dalam membangun Way Kanan sebagai Bumi Petani.
Dalam sambutannya buku ini, Menteri Pertanian Suswono menerangkan ajakan mulang tiuh atau pulang kampung sebagai bagian integral dalam rangka mewujudkan Way Kanan Bumi Petani dengan memobilisasi sumber daya yang ada dari seluruh masyarakat Way Kanan, termasuk yang ada di perantauan.
Sementara Jenderal Purn. Ryamizard Ryacudu, salah seorang putra Way Kanan, mengungkapkan bahwa melalui semangat mulang tiuh ini akan mengeratkan kembali ikatan tali kerukunan kita sebagai bangsa.
Buku ini ingin mengubah paradigma masyarakat bahwa petani adalah pekerjaan yang kurang terpandang di tengah-tengah masyarakat. Padahal, pertanian dan perkebunan bila digarap dengan serius akan menciptakan penghasilan atau aset sehingga terwujudlah solusi alternatif bagi kesejahteraan masyarakat.
Dalam menginventarisasi masalah yang ada di Way Kanan, buku ini merumuskan roadmap dan action planning. Titik tekannya dalam pembenahan internal dan eksternal. Pembenahan internal yang dimaksud adalah reformasi birokrasi. Sistem baru yang ditawarkan bupati bertujuan membongkar situasi birokrasi yang cenderung masih berbelit-belit. Sementara itu dari sisi eksternal, mengajak seluruh masyarakat Way Kanan untuk membangun kampung halamannya dan menyinergikan semangat kebersamaan dengan spirit mulang tiuh.
Mulang tiuh tidak harus berkonotasi secara fisik yang berupa perpindahan badaniah dari tempat yang jauh ke kampung halaman, tetapi lebih jauh lagi, yaitu ke kesadaran paling awal, perjalanan kembali ke kampung jiwa dan ke akar budaya.
Bahwa mereka yang pernah lahir dan besar di Way Kanan, kemudian merantau dan kondisi sosial ekonominya telah mapan, hendaknya menyadari bahwa tiuh punya saham besar membentuk para perantau tersebut, bahwa tradisilah yang kemudian membentuk watak dan bakat mereka.
Intinya, aktivitas mulang tiuh akan menjadi produktif jika tiuh disambangi dalam satu kesadaran utuh: berbakti kepada tanah kelahiran.
Masyarakat Way Kanan di perantauan barangkali telah terseret jauh dalam derasnya laju pembangunan, pengaruh globalisasi, teknologi, dan sebagainya. Melalui spirit mulang tiuh ini kita diajak bercermin kembali, melihat siapa diri kita, dari mana berasal, dan apa yang sudah kita dedikasikan kepada kampung halaman.
Dengan mengenang kampung sebagai nucleus cosmic kesadaran, diharapkan para perantau bergerak menuju ke titik yang sama. Spirit inilah yang menggerakan perubahan di desa dan memberikan impuls perubahan.
Bumi Petani terdiri dari dua pengertian filosofis, Bumi sebagai potensi sumber daya alam yang luar biasa dan Petani sebagai sumber daya manusia. Selain itu, program ini merupakan terobosan pembangunan yang berbasis kearifan lokal, kreatif, inovatif, dan berkarakter.
Buku Mulang Tiuh ini menarik untuk dibaca siapa saja yang ingin menyimak kondisi kontekstual, juga visi misi Way Kanan lima tahun ke depan di bawah kepemimpinan Bustami Zainuddin. Selain menjadi acuan dasar dalam mengisi pembangunan di Way Kanan, buku ini juga memberikan inspirasi dan harapan secara khusus kepada masyarakat Way Kanan untuk membangun kampung halamannya. Sedikit kekurangan buku ini, tidak disertakannya sejarah terbentuknya Kabupaten Way Kanan.
Bupati Way Kanan melalui buku Mulang Tiuh ini mengimbau seluruh masyarakat Way Kanan, terutama yang ada di perantauan, untuk bersama-sama kembali dan berbakti kepada kampung halaman, sekaligus mendukung program pembangunan di Bumi Petani.
Edi Siswanto, pembaca buku
Sumber: Lampung Post 3 April 2011
Langganan:
Postingan (Atom)